Lailatul Faizah, 15509489, 3PA01
Ini adalah rute ketiga dalam rangkaian perjalanan menulis tugas softskill saya hari ini. Tidak biasanya, kali ini saya dan teman-teman yang lain diminta menulis di luar pakem, yakni tentang impian yang ingin kami raih. Pikiran saya yang selama ini hanya terpaku pada kebutuhan fisiologis hari ini dan besok, langsung terbuka. Impian? Ah mau jadi apa ya saya puluhan tahun ke depan? Jadilah saya teringat keinginan-keinginan dalam jangka pendek. Probably 5-10 tahun yang akan datang. Dan hasilnya adalah bingung. Ibarat pohon mangga kebanyakan cabang. Dan karena kebanyakan cabang jadi rapuh, salah satu atau salah duanya pasti roboh karena kurang kuat. Harus ada skala prioritas di antara keinginan menjadi pengusaha roti, pengusaha situs kuliner, pengusaha barang-barang cina, pengusaha boneka robot, psikoclog klinis, hafidz, pelukis, tukang kebun, dan ibu rumah tangga yang baik.
Setelah dipilih mana yang menjadi prioritas dari keinginan saya di atas, ternyata itu semua masih dalam level setinggi gunung. Wajar jika pencapaian saya nanti hanya setinggi gunung atau setinggi pohon. Karena saya menyetting dari awal hanya setinggi gunung. Jadi kenapa tidak diubah menjadi setinggi langit? Kalau menyettingnya setinggi langit, maka setidaknya masih bisa mencapai bintang bukan? Jadi inilah impian setinggi langit hasil perenungan saya dua hari ini:

1. Menjadi Professor dan Penghafal al Quran pertama yang bisa ke luar angkasa.
Hal-hal yang sudah dan akan saya lakukan:
1. Untuk menjadi profesor: tidur. Karena setelah tidur fikiran saya bisa fresh sehingga siap menerima semua pelajaran. Menjadi profesor tidak harus selalu pusing dan serius.
2. Penghafal Al Qur’an: tidur lagi sambil mendengarkan murottal. Karena selama tidur otak jangka panjang bekerja maksimal.
3. Ke luar angkasa: lagi-lagi tidur. Siapa tahu saya bisa ke luar angkasa lewat lucid dream (lewat mimpi).
Mutu tidak kira-kira?
Popularity: 4% [?]




