Bingung Part I

Sumber foto: http://jimmiest.wordpress.com

Ini adalah kisah nyata tentang sebuah keluarga yang ditimpa musibah lucu sekaligus keberuntungan.  LOh? Musibah kok lucu? Ya.. Pokoknya baca aja dulu. Nanti juga tahu…

Oiya, sebagian nama tokoh dan tempat kejadian disamarkan. Semoga para calon Ibu bisa mengambil hikmah dan manfaat dari cerita ini. Khususnya bagi yang sedang hamil dan berencana punya anak.

Namanya mbak Enggar. Isteri dari teman suami saya, sekaligus teman baru saya. Mbak Enggar ini dikaruniai 2 orang anak cewek yang cakep-cakep. Anak yang pertama namanya Nori, yang kedua namanya lela.  Si Nori ini anak baptisnya mas Iqbal, ya karena yang ngasih nama “Nori” itu  suami saya. Anaknya feminin, kalem dan ayu. Nah, kalau si Lela ini tomboy banget, ngganteng dan suka pake celana, beda banget sama kakaknya.  Nori dan Lela jaraknya sangat dekat.  Yah..Sekitar 2 tahunan lah…Ok, let’s skip.

Singkat cerita, keluarga mbak Enggar ini pengen punya anak lagi. Dan kalau bisa cowok. Wajar, lha siapa sih yang gak pengen punya  anak cewek sekaligus cowok? Makannya, mereka memutuskan untuk berproduksi lagi.

Tapi sayang sungguh sayang, pas hamilnya udah rada gede dan diUSG, Pak dok-nya  ngomong;  “Wah… kayaknya nggak ada burungnya ni Pak…”.  “Yah… ,Cewek lagi dah…”, Kata suaminya.

Beberapa bulan kemudian…

Perut mbak Enggar mulai mules-mules, bukan karena mau be-ol, tapi karena mau melahirkan. Sang suami segera membawanya ke bidan terdekat. Barangkali saja bisa melahirkan secara normal. Setelah sampai di sana dan diperiksa, ternyata tekanan darahnya tidak stabil, alias naek turun. Akhirnya, dirujuklah mbak Enggar ke Rumah Sakit Zafirah untuk  melahirkan secara tidak normal alias operasi.

Rumah sakit Zafirah ini meskipun letaknya ndepipil tur nyempil, tapi lumayan rame. Sayang, petugasnya gak sebanding dengan pasien yang masuk. Walhasil, serpisnya kurang memuaskan. Perawatnya banyak yang  judes. Biayanya mahal, obate gak sip, ambune pesing pisan. Ha! Beneran lo… Dua kali saya ke sana. Yang pertama ya njenguk mbak Enggar, dan yang ke dua jenguk temen yang sakit demam berdarah. Setiap melintasi anak tangga, pasti tercium aroma kecoa, kalau nggak, ya aroma ekskresi manusia. Hoeek… Parahnya lagi, teman yang sakit DB Cuma dikasih obat pamol yang harganya cuma beberapa  perak itu. Tapi lha kok musti mbayar mahal… Udah gitu, kamar yang dipakai, bekas orang baru saja tewas lagi! Khkhkh… Okelah Segitu aja deskripsi Rumah sakit ini. Mbalik maning nang topik.

Sumber foto: abdullah-hrishikesh.superpagehost.in

Oeek..Oeeek…

Ha… Akhirnya mbak Enggar berhasil juga melahirkan seorang putera dengan proses operasi. Ya! Bukan seorang puteri seperti yang diprediksikan pak dok-nya dulu…. Namanya Azzam. Hehe… Kayak KGB aja, (Ketika Gundul Bertasbih). Saya, suami saya, mas Yoko, mas Harya, mas Mufti beserta isteri janjian buat menjenguk  mbak Enggar  yang ditempatkan di ICU saat itu.  That’s it? Oh tidak… Masih ada cerita lagi…

Biaya cesar di Rumah sakit ini lumayan gede, sekitar 40 jutaan. Ya, mungkin karena ditempatkan di ruang ICU juga kali ya… Padahal di paketnya tertera sekitar 6 jutaan loh…

Eh, lha kok ndilalah Suaminya mbak Enggar ini cerita kalau ada bantuan dari luar negeri yang namanya Zazkil. Tapi kudu setor satu jutaan setahun. Dan musti mengajak 3 orang untuk join. Kami semua langsung beranggapan itu tuh MLM. Mana ada bantuan yang bayar? Udah gitu suruh ngajak orang lagi?

Mas-mas yang di situ langsung pada menasehati untuk berhati-hati sampek berbusa-busa . Tapi sayang, pandangan suaminya mbak Enggar  masih kosong. Akhirnya, satu-satunya kertas brosur dekil zazkil langsung dibawa Mas Iqbal keluar entah kemana. “Biar gak mikirin zazkil terus”. Katanya…

Beberapa hari kemudian….

“Mbak enggar udah keluar dari Rumah sakit, sepertinya kondisinya kritis. Kata suaminya dia pengen ditemani banyak orang. Nanti kamu aku jemput, kita sama-sama ke sana, ya.” Begitu kira-kira bunyi pesan suamiku pasca kelahiran mbak Enggar.

“Ya, Gusti? Apa mbak Enggar mau wafat ya? Koq pengen ditemenin banyak orang… Kasihan sekali, pengen anak lanang tapi akhirnya nggak bisa nimang…”, Begitulah gumamku waktu itu gak keruan.

Karena kondisi mbak Enggar yang kritis, anaknya mbak Enggar kami titipkan di Mpok Encob. Baby sitter desa. Sepanjang perjalanan saya sudah membayangkan yang tidak-tidak. Surat yasin, ibu-ibu pelayat, ish! Segera kutepis pikiran-pikiran yang berkelebatan gak genah itu.

Dengan mengenakan pakaian putih, jilbab putih  dan rok krem, aku tersenyum ke mbak Enggar yang waktu itu tergolek lemah. Tiba-tiba dia memeluk mertuanya erat-erat yang badannya sudah ringkih dan sepuh. Sambil bertanya, “Siapa itu? Itu siapa!”  Suaminya menjawab, “Itu mbak ela mah, yang suka maen dimari…”. Tetapi mbak Enggar semakin memeluk mertuanya dan mencengkeram tangan suaminya dengan erat. “Waduh, badane mamake gering iki, gak ingso napas…” Kata mertuanya dengan logat tegal-brebes yang kental sambil menahan asmanya yang kambuh.

Mbak Enggar akhirnya mau melepaskan pelukan dan cengkeramannya ke suami dan mertuanya setelah tangannya  kugenggam. Secepat kilat Ia langsung mencengkeram tanganku dengan kuat sambil berkata, “Jangan pergi! Mbak ini nggak boleh pergi!”. “Iya mbak.. Saya nggak akan pergi….”, bisikku.

Sambil mencengkram tangan dan memelukku, mbak Enggar menggigit-gigit jempol tangannya, sesekali lidahnya ditekan-tekan dengan jari telunjuknya. Mbak enggar nggak ingat siapa saya, tapi waktu saya tanya saya siapa, dia jawab, “Isterinya mas Iqbal!”. Lalu tiba-tiba dia menoleh ke mas Iqbal dan berteriak, “Itu siapa itu?”. Sebelum kujawab, eh sudah dijawabnya sendiri dengan lantang, “Itu mas Iqbal! Iya, itu mas Iqbal!!”.

“Panas… Panas… Panas…!” teriak mbak Enggar. Segera kukipasi badannya, tapi segera dibuang kipasnya dan berkata, “ Jangan dikipasi!”. Pikiran paranoidku mulai bekerja, apa ini ya kalau susah sakaratul mautnya? Tapi segera kutepis jauh-jauh. Lhawong mbak Enggar ini lo solehah pol…

“Ini mbak Enggar kenapa mas? Apa kebanyakan anesthesia ya? Atau salah obat? Atau kebanyakan insulin? Koq jadi seperti anak kecil dan agak amnesia gini?”, tanyaku pada suaminya.  Suaminya bilang, kalau sebenarnya mbak Enggar ini belum waktunya pulang. Tapi mbak Enggar ingin segera pulang. Katanya sebelumnya normal-normal aja. Tapi setelah disuntik 3 kali sebelum pulang itu jadi aneh.  Penjelasan suaminya lumayan menenangkan kalau yang dimaksud kondisi kritis itu nggak sengeri yang dibayangkan.

“Panas…Panas…Panas…!” “aku gak bisa liat… Aku buta!” teriaknya lagi. Kali ini tetangga-tetangga sudah berdatangan. “Ooh..ini kerasukan ini… Sama kayak isterinya Pak Kaji Doyok yang selingkuh…. “ Mulai dah Ibu-ibu ini pada ngegosip dan gak rasional. Ada yang baca yasin, ada yang baca sholawat, ada yang bawa dukun yang nyemprot ubun-ubun mbak Enggar. Bruuushh!!! Akupun membisikkan  Asma’ul husna ke telinga mbak Enggar. Yang terjadi mbak Enggar menangis dan saya semakin dipeluknya erat sampai jatuh terguling.   Saya mulai gak rasional, “Apa iya ya kerasukan?”. “Ah, kagak mungkin! Mbak Enggar mungkin begitu karena mantra padang pasir yang dibacakan di telinganya membuat batinnya terenyuh, seperti vitamin yang menyejukkan ketika semua orang tidak ada yang mengerti ceracaunya kala itu”, Batinku.

Mak bedunduk! Mas Kapid,temannya mas Iqbal tiba-tiba berada di depan pintu membawa air zam-zam dan berkata, “Ada yang bisa saya bantu?”. Ibu-Ibu langsung bilang, “tolong mas, digendong ke kasur”. Loh, wong saya bukan suaminya? Jawab mas kapid sambil menahan tawa. “O… Saya kira suaminya”, jawab Ibu-ibu kompak. “Oalah… Mak.. Mak.. “, batinku.

Karena sudah malam, dan sudah banyak yang nemenin, akhirnya kami pamit pulang. Terakhir kulihat, mbah Enggar masih memeluk ibu-ibu sambil ngenyot jempol. “Hmmm… Kasihan…”, pikirku.

Sumber Foto: http://healindonesia.wordpress.com

Selang 3 hari kemudian, kudengar mbak Enggar sudah sembuh dan mulai menyusui anaknya.  Beruntungnya lagi, Yayasan zazkil itu bukan boongan seperti yang selama ini kami pikirkan loh! Mereka benar-benar menjamin semua biaya perawatan Rumah Sakit yang sekian puluh juta itu. Tapi mbak Enggar itu kloter terakhir. Setelah menjamin biaya Rumah sakit mbak Enggar, zazkil langsung bangkrut. Oalah….. :D

Sesuai dengan title-nya, saya sebenarnya sedang bingung  buat ngasih judul postingan ini. Silahkan kalau mau ada yang urun ngasih judul. Haha….:D

PART II: Lebih Heboh

Popularity: 7% [?]

Share
This entry was posted in Indonesia and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

[+] kaskus emoticons nartzco