Sebenarnya film favorit saya adalah Ghost Rider. Meski pun jadul tapi saya sudah lima kali menonton film ini. Namun karena tidak ada keterkaitannya dengan psikoterapi, maka saya memilih film lain yang menurut saya bagus dan masih ada relevansi dengan psikoterapi. Judul filmnya Good Will Hunting, dengan pemeran utama Matt Damon (Will Hunting), dan Robbie William (Sean). Film ini menceritakan tentang seorang pekerja cleaning service yang tidak sekolah namun jenius di Universitas teknik ternama di Amerika Serikat. Diam-diam setiap kampus sepi, Will secara misterius hobi mengerjakan kuis matematika tak terpecahkan di papan yang diadakan profesor universitas setempat untuk mahasiswanya. Suatu saat, ulah Will tersebut akhirnya diketahui oleh sang Profesor, yang kemudian berusaha untuk menarik Will dan mengarahkan kejeniusannya pada hal yang produktif.
Namun, Will yang cenderung defensif, sombong, introvert, sukar percaya pada orang lain dan agresif ternyata lebih suka berada di jalanan, hang out di bar atau berkelahi yang kemudian membawanya masuk ke jeruji. Profesor pun mengambil kesempatan ini untuk menarik Will dengan memberinya pilihan, mau tetap meringkuk di penjara atau dijamin kebebasannya namun dengan syarat harus rutin menemui profesor dan psikiater beberapa minggu sekali. Dan Will pun menyanggupi tawaran kebebasan profesor tersebut. Psikiater dan terapis pertama Will adalah seorang yang beraliran Freudian menggunakan teknik asosiasi bebas dari pendekatan psikoanalisanya Sigmund Freud, yang ternyata tidak mempan pada Will, Will malah mengejek terapis tersebut dengan menceritakan mimpi yang vulgar sehingga terapis tersebut akhirnya tidak tahan. Setelah kegagalan terapis pertama, Will pun dipertemukan profesor dengan terapis kedua dengan pendekatan directive. Dan Will pun berhasil membuat terapis tersebut jengkel dengan mengatainya secara tidak pantas.
Sampai suatu saat profesor meminta kawan lamanya satu almamater, bernama Sean (Robbie William) yang seorang psikiater dan pernah menjadi seorang terapis. Profesor menghubungi Sean sebagai langkah terakhir dengan pertimbangan adanya kesamaan daerah antara temannya ini dengan Will. Diharapkan, Will dapat lebih terkendali karena faktor kesamaan daerah. Pada sesi pertama pertemuan dengan Will, Sean tidak menghakimi Will yang terus-menerus berusaha menyinggung Sean. Hingga pada akhirnya saat Will menilai lukisan Sean berupa manusia yang naik perahu di tengah lautan sendirian kira-kira dengan dialog seperti ini, “Kamu menikahi wanita yang salah ya? Iya kan kamu menikahi wanita yang salah? Isterimu meninggalkanmu? Kenapa? dia selingkuh?” Sebagai seorang terapis yang diharuskan mempunyai genuinness (sifat keaslian), Sean pun marah, tidak terima isterinya dicela demikian dan sesi pertama pun diakhiri. Sebenarnya Sean juga ingin menunjukkan kepada Will untuk mampu mengekspresikan perasaan seperti marah ketika keadaan memang memaksanya harus marah dan tidak merepressnya. Setelah Will pergi, Sean merenungi apa yang disampaikan Will, lalu tersenyum, berpikir bahwa anak ini sepertinya memang cerdas.
Pada sesi kedua, Sean kemudian menceritakan secara terbuka tentang isteri yang dicintainya, yang tetap dicintainya meskipun dipisahkan oleh kanker. Sean bertanya pada Will, apakah pernah dia mencintai orang seperti itu? Dan Will pun untuk pertama kalinya, diam mendengarkan. Ini sebenarnya adalah trik Sean sebagai psikiater yang berpengalaman, dengan menggunakan keterbukaan agar kliennya yang sangat defensif dan tertutup, yang tidak mau masalahnya diketahui orang lain ini mau membuka dirinya.
Sesi-sesi selanjutnya saya kurang begitu hafal urutannya, yang jelas dengan perlakuan Sean yang lembut, terbuka, dan humoris layaknya seorang ayah kepada anaknya dan teknik proyeksi dengan menceritakan pengalaman orang lain yang dianiaya, pada akhirnya kekerasan hati Will pun runtuh dan mau terbuka, masalah yang selama ini ditekan oleh Will kemudian terbongkar. Will ternyata mengalami child abuse (penganiayaan anak) dari orang tuanya, yang kemudian Sean pun melakukan sesi pelepasan emosi dengan meyakinkan Will bahwa itu bukan salahnya dan memeluk Will yang tangisnya tiba-tiba meledak . Sementara itu, terkait dengan kehidupan percintaan Will dengan mahasiswi kedokteran Harvard yang juga bermasalah, Sean mengkonfrontir mekanisme pertahanan diri (defense mechanism) jenis proyeksi dari Will, dan berhasil menyadarkan Will bahwa manusia tidak ada yang sempurna. Di sesi akhir, Sean juga memberi pertanyaan menantang kepada Will yaitu tentang tujuan hidup dan kehendak yang ingin dicapai Will.
Pada akhirnya, Sean yang menggunakan aliran humanisnya Carl Roger ini, (sebuah aliran yang menyatakan bahwa seseorang bermasalah karena kurangnya pencerahan), dengan pendekatan person centered (client-centered therapy) ini, berhasil membawa pengaruh positif bagi Will, sehingga Will pun akhirnya sadar akan potensi dirinya, dan mau menerima tawaran pekerjaan bidang teknologi yang sesuai dengan kejeniusannya, dan membangun kembali hubungan percintaannya secara serius dengan kekasihnya yang sempat dikecewakannya. Sean pun sesuai prosedur, mengakhiri sesi konseling dan terapinya dengan Will.
Ada dua persepsi dari judul film ini, antara ingin menyampaikan pesan: “Good, Will hunting!” ( Bagus, Will Hunting!) atau “Good Will hunting” yang berarti pencarian, perburuan kehendak yang baik..
Popularity: 3% [?]