Antara GPS dan Mobil Merah

Gambar ini menceritakan tentang sebuah mobil merah yang terlanjur jauh bersenang-senang di jalur neraka dan tersesat tanpa sadar, kemudian dibimbing, diluruskan oleh GPS edisi authoritative, untuk kembali ke titik nol sebelum persimpangan antara jalur surga dan neraka. GPS yang biasanya terkenal sigap dan rajin memberikan peringatan ini ternyata sangat terlambat memberi tahu kalau mobil ini tersesat. Meskipun lelah karena  harus menempuh berkilometer  jarak dari belokan pengadilan akhirat ke titik nol untuk mulai berbelok ke jalur surga, diam-diam mobil merah ini sangat bersyukur karena hal tersebut jauh lebih baik daripada dibiarkan oleh GPS edisi permisif. Yang membiarkan pengguna jasanya terus melaju ke jalur neraka asal mereka bisa senang dan bahagia, namun ujungnya adalah sidang akherat yang memutuskan mereka harus dibantai di neraka.

Mobil lain yang sejalur dan punya GPS dengan edisi yang sama dengan milik si mobil merah mulai tidak tahan dengan peringatan-peringatan GPS ini dan mulai membantingnya. Padahal ada hikmah bahwa GPS edisi ini ternyata sangat perhatian kepada mobil yang menggunakan jasanya agar dapat melaju sesuai jalur yang benar dan menghasilkan hasil yang terbaik yaitu sidang pengadilan yang lancar berujung surga.

Hampir semua orang bersungguh-sungguh dan cemas dalam mempersiapkan sidang-sidang pengadilan yang harus dihadapi di dunia. Padahal, sidang di akherat 1000 kali lebih dahsyat, dimana tidak ada satu pun perkataan dan amal perbuatan yang terlewat dari sistem penghitunganNya yang Maha Canggih. Adakah yang cemas dan bersungguh-sungguh mempersiapkan sidang laporan pertanggungjawaban  amal ini?

(Sebuah ilmu  dari hasil perenungan saya selama kegiatan penelitian ilmiah)

Popularity: 2% [?]

Share
Posted in Indonesia | Leave a comment

Protected: Udah Biasa

This post is password protected. To view it please enter your password below:


Popularity: 2% [?]

Share
Posted in Indonesia | Enter your password to view comments.

Tugas Softskill Psikoterapi – Review Film Favorit

Sebenarnya film favorit saya adalah Ghost Rider. Meski pun jadul tapi saya sudah lima kali menonton film ini. Namun karena tidak ada keterkaitannya dengan psikoterapi, maka saya memilih film lain yang menurut saya bagus dan masih ada relevansi dengan psikoterapi. Judul filmnya Good Will Hunting, dengan pemeran utama Matt Damon (Will Hunting), dan Robbie William (Sean). Film ini menceritakan tentang seorang pekerja cleaning service yang tidak sekolah namun jenius di Universitas teknik ternama di Amerika Serikat. Diam-diam setiap kampus sepi, Will secara misterius hobi mengerjakan kuis matematika tak terpecahkan di papan yang diadakan profesor universitas setempat untuk mahasiswanya. Suatu saat, ulah Will tersebut akhirnya diketahui oleh sang Profesor, yang kemudian berusaha untuk menarik Will dan mengarahkan kejeniusannya pada hal yang produktif.

Namun, Will yang cenderung defensif, sombong, introvert, sukar percaya pada orang lain dan agresif ternyata lebih suka berada di jalanan, hang out di bar atau berkelahi yang kemudian membawanya masuk ke jeruji. Profesor pun mengambil kesempatan ini untuk menarik Will dengan memberinya pilihan, mau tetap meringkuk di penjara atau dijamin kebebasannya namun dengan syarat harus rutin menemui profesor dan psikiater beberapa minggu sekali. Dan  Will pun menyanggupi tawaran kebebasan profesor tersebut. Psikiater dan terapis pertama Will adalah seorang yang beraliran Freudian menggunakan teknik asosiasi bebas dari pendekatan psikoanalisanya Sigmund Freud, yang ternyata tidak mempan pada Will, Will malah mengejek terapis tersebut dengan menceritakan mimpi yang vulgar sehingga terapis tersebut akhirnya tidak tahan. Setelah kegagalan terapis pertama, Will pun dipertemukan profesor dengan terapis kedua dengan pendekatan directive. Dan Will pun berhasil membuat terapis tersebut jengkel dengan mengatainya secara tidak pantas.

Sampai suatu saat profesor meminta kawan lamanya satu almamater, bernama Sean (Robbie William) yang seorang psikiater dan pernah menjadi seorang terapis. Profesor menghubungi Sean sebagai langkah terakhir dengan pertimbangan adanya kesamaan daerah antara temannya ini dengan Will. Diharapkan, Will dapat lebih terkendali karena faktor kesamaan daerah. Pada sesi pertama pertemuan dengan Will, Sean tidak menghakimi Will yang terus-menerus berusaha menyinggung Sean. Hingga pada akhirnya saat Will menilai lukisan Sean berupa manusia yang naik perahu di tengah lautan sendirian kira-kira dengan dialog seperti ini, “Kamu menikahi wanita yang salah ya? Iya kan kamu menikahi wanita yang salah? Isterimu meninggalkanmu? Kenapa? dia selingkuh?” Sebagai seorang terapis yang diharuskan mempunyai genuinness (sifat keaslian), Sean pun marah, tidak terima isterinya dicela demikian dan sesi pertama pun diakhiri. Sebenarnya Sean juga ingin menunjukkan kepada Will untuk mampu mengekspresikan perasaan seperti marah ketika keadaan memang memaksanya harus marah dan tidak merepressnya. Setelah Will pergi, Sean merenungi apa yang disampaikan Will, lalu tersenyum, berpikir bahwa anak ini sepertinya memang cerdas.

Pada sesi kedua, Sean kemudian menceritakan secara terbuka tentang isteri yang dicintainya, yang tetap dicintainya meskipun dipisahkan oleh kanker. Sean bertanya pada Will, apakah pernah dia mencintai orang seperti itu? Dan Will pun untuk pertama kalinya, diam mendengarkan. Ini sebenarnya adalah trik Sean sebagai psikiater yang berpengalaman, dengan menggunakan keterbukaan agar kliennya yang sangat defensif dan tertutup, yang tidak mau masalahnya diketahui orang lain ini mau membuka dirinya.

Sesi-sesi selanjutnya saya kurang begitu hafal urutannya, yang jelas dengan perlakuan Sean yang lembut, terbuka, dan humoris layaknya seorang ayah kepada anaknya dan teknik proyeksi dengan menceritakan pengalaman orang lain yang dianiaya, pada akhirnya kekerasan hati Will pun runtuh dan mau terbuka, masalah yang selama ini ditekan oleh Will kemudian terbongkar. Will ternyata mengalami child abuse (penganiayaan anak) dari orang tuanya, yang kemudian Sean pun melakukan sesi pelepasan emosi dengan meyakinkan Will bahwa itu bukan salahnya dan memeluk Will yang tangisnya tiba-tiba meledak . Sementara itu, terkait dengan kehidupan percintaan Will dengan mahasiswi kedokteran Harvard yang juga bermasalah, Sean mengkonfrontir mekanisme pertahanan diri (defense mechanism) jenis proyeksi dari Will, dan berhasil menyadarkan Will bahwa manusia tidak ada yang sempurna. Di sesi akhir, Sean juga memberi pertanyaan menantang kepada Will yaitu tentang tujuan hidup dan kehendak yang ingin dicapai Will.

Pada akhirnya, Sean yang menggunakan aliran humanisnya Carl Roger ini, (sebuah aliran yang menyatakan bahwa seseorang bermasalah karena kurangnya pencerahan), dengan pendekatan person centered (client-centered therapy) ini, berhasil membawa pengaruh positif bagi Will, sehingga Will pun akhirnya sadar akan potensi dirinya, dan mau menerima tawaran pekerjaan bidang teknologi yang sesuai dengan kejeniusannya, dan membangun kembali hubungan percintaannya secara serius dengan kekasihnya yang sempat dikecewakannya. Sean pun sesuai prosedur, mengakhiri sesi konseling dan terapinya dengan Will.

Ada dua persepsi dari judul film ini, antara ingin menyampaikan pesan: “Good, Will hunting!” ( Bagus, Will Hunting!) atau “Good Will hunting” yang berarti pencarian, perburuan kehendak yang baik..

Popularity: 3% [?]

Share
Posted in Indonesia | Leave a comment

Nyampah bentar

Numpang nyampah pake kata lu gue….! hahaha! gapapa dan gak dosa koq kalo sekali-kali emak-emak pengen juga jadi anak gehu …. :D

Doktrin: “Calon psikoclog tu gak boleh curhat dan cerita tentang dirinya sendiri, harus mendengar dan mendengar.”

Ok, tapi kan calon psikoclog juga manusia, pasti lah ada masa dimana dia pengen didengar. Lalu siapa yang paling setia mau ndengerin? Yoi, Tuhannya, suaminya, pasangannya,  atau apalah you name it.

Gak kebayang deh betapa kuatnya suami kite tuh. Jadi tempat bombardir cerita setelah kite tahan-tahan seharian. Gak setres apa yak?

“Yank koq bisa tahan sih ndengerin gue yang suka ngomong terus? Gue sendiri aja muak dengernya. ” Dan dienya hanya ngakak terpingkal-pingkal. Ah…I miss him.

4 minggu LDR  sendirian di rumah gue sibukin aja bikin kolam, ngurusin piyik dara ama ngeblog. Hah asik-asik aja ternyata berasa jadi isteri kuat (sombong!) masih kuatan juga isterinya orang pelayaran… Etapi beneran lho banyak koq beberapa isteri lain sehari telat pulang aja langsung bingung nyariin.

Tapi emang sih setegar-tegarnya gue, ada kalanya juga suatu hari gue nangis, dan itu pas ada temen cewek gue nangis diganggu jin di kampus, di depan die sih gue kuat-kuatin seperti biasa. Pulangnya gue jadi nangis tanpa sebab dan jadi parno, mukena dikira pocong. Yang pasti sedih banget bayangin jadi die, die sih diem aja, tapi gue bisa ngerasa ada sesuatu beban yang berat yang dia simpan.  Oh emang orang sedih dan nangis itu nular…

You know what? dan hari ini gue keceplosan mempermalukan diri gue ke temen yang hampir bertahun gak pernah ketemu kalo  2 hari ini gue ngerasa parno. Hwahahaha udah sekali ini aja!

Hah, lega juga sih bisa nulis pikiran di sini, the real psikoclog gue lagi di LN, daripada me-repress perasaan jadinya gak bagus, mendingan belajar asertif dengan nyampah dimari…Ha gak pantes ya seorang Laila nyampah? Hwakwakwa..blog-blog gue juga…

Ok, back to work :D

Popularity: 6% [?]

Share
Posted in Indonesia | 3 Comments