Waspada Bahaya Ketuban Pecah Dini (KPD)

Ada banyak faktor yang menyebabkan ketuban pecah dini. Beberapa diantaranya adalah adanya trauma di daerah sekitar panggul dan rahim karena kecelakaan, jatuh, kerja yang terlalu berat, kelelahan, malah kadang penyebabnya tidak jelas. Ketuban pecah dini tidak bisa dianggap remeh karena kondisi ini membahayakan keselamatan anda dan bayi di dalam kandungan anda. Pun begitu, tidak perlu terlalu khawatir jika hal ini belum terjadi pada anda. Karena dengan mengetahui sedikit tips ini, mudah-mudahan anda tidak perlu mengalami seperti yang saya alami.

Berikut ini adalah fakta seputar KPD murni berdasarkan pengalaman pribadi saya:

1. Ketika hamil, hindari goncangan, hindari naik motor terutama untuk kehamilan anak  pertama. Bukan karena apa-apa, ini untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan seperi stres pada bayi dan atau terjadi sesuatu di jalan raya yang meningkatkan resiko KPD. Pun pada kehamilan pertama anda belum bisa mengukur kekuatan rahim anda. Belum ditambah resiko terkena timbal yang dihasilkan asap beberapa kendaraan bermotor. Menurut Kak Seto, dan penelitian Bocskay, et al (2005) serta menurut Parker, Woodruff, Basu, & Schoendorf (2005), polusi menyebabkan kelahiran prematur, berat bayi rendah, autism, ADHD, bahkan kelainan kromosom. Bukan berarti jika anda naik mobil akan aman dari polusi. Ketika anda membuka jendela, residu akan masuk ke dalam mobil dan ketika anda menutup kacanya, secara tak sadar anda berjibaku dengan polusi.

2. Jika belum cukup bulan sudah keluar cairan yang menetes-netes yang baunya khas seperti bau air kelapa dan warnanya seperti air cucian beras, segera beli kertas lakmus di toko kesehatan. Begitu cairan itu menetes sampai ke paha, tempelkan kertas lakmus di cairan, dan periksa apakah kertas lakmus menjadi berwarna biru atau merah. Jika biru berarti bersifat basa dan kemungkinan besar itu ketuban. Jika merah berarti sifatnya asam dan kemungkinan cairan biasa.

3. Apabila anda curiga mengalami KPD, segera temui dokter yang kompeten untuk menghindari salah diagnosis. Jangan ragu-ragu untuk menanyakan sekolah dan praktek dimana dulu dokter kandungan anda. Mengingat pada kasus saya, dua dokter kandungan dan dua bidan yang saya datangi kurang profesional. Semuanya menolak pendapat saya. Salah satu dokter malah tidak mau memeriksa sendiri, malah menyuruh susternya, dan anehnya meriksanya pakai tangan. Yang satunya lagi meskipun ahli mengetahui jenis kelamin saat kandungan masih 4 bulan, saya lihat sendiri salah satu pasien caesarnya perutnya bolong dan  pasien itu mengerang kesakitan sambil ditranfusi darah. Baru setelah saya ke dokter kandungan langganan yang lulusan UI dan pernah praktek di RS. Cipto Dr. Dewi Koeskurniawati (bukan Dr. Dewi yang lain), dengan membawa bukti berupa kertas lakmus dari rumah, begitu melihat cairannya  beliau langsung tau kalau itu adalah ketuban. Curcol, Bahkan saking baiknya, beliau rela menunggui saya 3 hari selama proses pembukaan meskipun saat itu anaknya sedang sakit. Ketika pasangan saya shalat, beliau menyuapi saya. Tidak sampai di situ, beliau bahkan  menggratiskan biaya induksi.

4. Jika anda mengalami KPD, artinya cairan amnion anda tidak steril lagi dan ada kontak dengan luar yang berpotensi menyebabkan kuman masuk dan menginfeksi bayi anda. Cek secara rutin beberapa jam sekali kadar leukosit dalam darah anda. Jika lebih dari 19000, artinya  bayi anda harus segera dilahirkan. Jika masih dibawah itu, anda bisa menunggu untuk melahirkan bayi anda sampai cukup bulan. Agar murah, anda bisa menantinya di rumah. Tapi tentu saja lebih aman lagi jika anda menantinya di Rumah sakit. Dan selama penantian itu, anda harus bed rest, tidak boleh turun dari ranjang kecuali untuk BAB. Selain itu anda harus rutin cek detak jantung bayi, cek jumlah cairan amnion secara berkala, karena jika ketuban menetes terus, lama-lama bisa kering dan ini berbahaya. Konsultasikan pada dokter ObGyn anda tentang batas minimum cairan ketuban ini.

5. Ibu hamil yang mengalami KPD masih bisa melahirkan secara normal dengan atau tanpa induksi. Meskipun induksi adalah alternatif yang beresiko mempengaruhi perobekan rahim (rupture) dan perilaku dari bayi anda kedepannya, namun resikonya lebih kecil dibandingkan tidak menggunakan alternatif ini. Jika pada proses persalinan infeksi anda tinggi tapi tidak  segera partus, nyawa anda dan nyawa bayi anda taruhannya. Komunikasikan hal ini dengan dokter kandungan anda.

6. Tentu saja mencegah lebih baik daripada mentreatment. Sebuah penelitian di Amerika menyimpulkan bahwa mengonsumsi vitamin C secara rutin mulai usia kandungan 4 bulan dapat mencegah KPD Casanueva et al (2005).

Note: Saya bukan dari kalangan medis. untuk keterangan lebih lanjut, hubungi dokter.

Referensi:

Mulyadi, Seto. (2011). Mata kuliah psikologi anak khusus kelas 3PA01: Faktor-faktor penyebab ADHD. 22-11-2011. Depok: Universitas Gunadarma.

Bocskay, K., A., Tang, D., Orjuela, M. A., Liu, X., Warburton, D.P., & Perera, F.P. (2005). Chromosomal aberrations in cord blood are associated with prenatal exposure to carcinogenic polycylic aromatic hydrocarbons. Cancer Epidemiology Biomarkers and Prevention, 14, 506-511.

Parker, J. D., Woodruff, T. J., Basu, R., & Schoendorf, K. (2005). The past as prologue: An overview of a century of developmental psychology. Dalam R. D Parke, P.A. Ornstein, J. J. Rieser, & C. Zahn-Waxler (Eds.), A century of the developmental psychology (h.1-70). Washington DC: American Psychological Association.

Casanueva, E., Ripoll, C., Tolentino, M., Morales, R., M., Pfeffer, F.,  Vilchis, P., & Ortega F., F. (2005).  Vitamin C supplementation to prevent premature rupture of the chorioamniotic membranes: a randomized trial. The American Journal of Clinical Nutrition, Vol. 81, No. 4, 859-863. MD: American Society for Clinical Nutrition. 12/14/2011. http://www.ajcn.org/content/81/4/859.full.pdf+html.

Casanueva, E., Ripoll, C., Tolentino, M., Morales, R., M., Pfeffer, F.,  Vilchis, P., & Ortega F., F. (2005).  Vitamin C supplementation to prevent premature rupture of the chorioamniotic membranes: a randomized trial. The American Journal of Clinical Nutrition, Vol. 81, No. 4, 859-863, April 2005. MD: American Society for Clinical Nutrition. 12/14/2011. http://www.ajcn.org/content/81/4/859.full.pdf+html.

Popularity: 12% [?]

Share
Posted in Indonesia | Leave a comment

Psikodiagnostika 2: Observasi Tingkatan Ekspresi Emosi Positif Dan Negatif Pada Bayi Usia 6 Bulan

Penulis:     Lailatul Faizah  15509489,

Photo by:  Julita Widyasaditrie  15509642

I. Latar Belakang Masalah

Ekspresi emosi dari sedih sampai tersenyum sudah ada sejak awal kehidupan manusia. Ada ekspresi positif seperti tersenyum dan tertawa, dan ada emosi negatif seperti sedih, marah, dan takut. Penelitian observasi ini mencoba membuktikan bahwa ekspresi emosi positif dan negatif pada bayi mempunyai tingkatan kuat dan lemah. Dimana emosi positif yang kuat sering muncul pada bayi ketika mereka menghadapi situasi yang menyenangkan seperti berdekatan dengan orang tuanya. Sedangkan emosi negatif yang kuat muncul ketika mereka mengalami situasi yang tidak menyenangkan seperti berjauhan dengan orang tuanya.

II. Landasan Teori

Ada sebuah teori yang dominan mengatakan bahwa ada beberapa ekspresi emosi dasar yang muncul sejak awal kehidupan manusia, seperti ekspresi emosi kebahagiaan dan kesedihan. ( Ekman dalam Messinger, 2002). Pada bayi, Ekspresi emosi sedih dapat dikatakan sebagai ekspresi emosi negatif yang agak sulit untuk mengetahui ciri-cirinya. Hal itu disebabkan bayi cenderung menangis ketika merasakan emosi negatif baik itu marah, sedih, ataupun takut sehingga kadang bercampur-baur (Camras dalam Messinger 2002).  Sedangkan ekspresi emosi positif seperti bahagia misalnya, sangat mudah dikenali cirinya oleh siapapun. (Ekman dalam Messinger, 2002).

Sebuah penelitian menyebutkan bahwa ekspresi emosi bersifat universal. Ekspresi sedih akan tampak ketika ujung alis tertarik ke atas, sedangkan bagian tepi luarnya ke bawah. Begitupun kedua ujung bibir membentuk lengkungan ke bawah. Semakin kuat rasa sedih, semakin tampak jelas kedua tanda ekspresi ini. Dan semakin kecil rasa sedih, kedua tanda ini terlihat samar atau hanya muncul satu tanda. (Ekman, Friesen, & Hager, 2002). Biasanya bayi menunjukkan ekspresi emosi sedih ketika berjauhan dengan orang yang sangat lekat padanya misalnya ibunya. (Bowlby dalam Papalia, Olds, & Feldman, 2009).

Lebih lanjut pada emosi positif biasanya ditandai dengan bibir yang membentuk lengkung senyuman. Ada beberapa tipe senyuman yang mengindikasikan tingkatan emosi positif seseorang. Senyuman yang sangat kuat ditandai dengan mulut yang terbuka dengan adanya otot pipi yang tertarik ke atas diikuti dengan aktivitas otot mata. Sedangkan senyuman yang tidak disertai adanya aktivitas otot pipi dan mata biasanya untuk berinteraksi sosial atau untuk menyembunyikan emosi yang sesungguhnya ( Ekman, Friesen, & Hager, 2002).

Sebuah penelitian pada bayi menunjukkan bahwa senyuman bayi umur 10 bulan yang diikuti tertariknya otot pipi ke atas muncul sebagai reaksi karena Ibunya tersenyum kepadanya, sedangkan senyuman yang tidak diikuti otot pipi dan mata yang tertarik muncul sebagai reaksi karena adanya pendekatan yang selain orang tuanya ( Fox & Davidson dalam messinger, 2002). Penelitian yang lain menyebutkan bahwa bayi yang berusia 6 bulan menunjukkan senyuman yang disertai mulut yang terbuka dan diikuti aktivitas otot pipi dan otot mata saat Ibunya tersenyum (Messinger, 2002).

III. Pelaksanaan Observasi

Dalam rangka memenuhi tugas observasi mata kuliah psikodiagnostik II, kami melakukan observasi tentang Tingkatan Ekspresi Emosi Positif dan Negatif Pada Bayi Usia 6 Bulan. Observasi ini kami lakukan dua hari yaitu pada hari sabtu, 22 Oktober 2011 dan pada hari selasa, 25 Oktober 2011 bertempat di dalam kamar Ibu subjek. Subjek bernama Syifaralya Latifa Karim yang saat ini baru menginjak usia 6 bulan. Subjek merupakan puteri pertama dari Ibu Julita Widya Safitrie dan Bapak Alfin Febrian Karim yang berdomisili di Sawangan, Depok.

IV. Hasil Observasi

A. Setting

Tempat pelaksanaan observasi berada di kamar subjek yang bernuansa cat hijau toska. Ada lukisan canvas bergambar ikan koi dan 1 foto pre-wedding di dinding. Persis di depan tempat tidur terdapat Televisi Merk sharp. Tempat tidur subjek dilapisi sprei yang berwarna biru motif bunga. Di tempat tidur subjek ada perlak yang bertulis lovely baby, ada selimut bayi dan bantal yang bergambar beruang. Di lantai ada car seat warna biru.

B. Ekspresi Emosi Positif

Gb 1

Gb 2

Gb 3

1. Gambar pertama diambil pada hari pertama observasi, subjek merespon kedatangan orang lain yang dikenal subjek dengan ekspresi emosi positif yang tidak terlalu kuat. Tidak ada pipi yang tertarik ke atas, hanya otot mata kiri subjek yang beraktivitas. Namun, mulut subjek terbuka saat tersenyum.

2. Gambar ke dua diambil pada hari ke dua observasi, saat Ibu subjek baru saja pulang kuliah. Subjek menunjukkan ekspresi emosi positif yang kuat. Subjek tersenyum lebar dengan mulut sedikit terbuka dengan diikuti pipi yang tertarik ke atas dan adanya aktivitas otot mata bawah. Tangan subjek tertarik ke depan seperti meminta gendong. Pada gambar ke tiga, subjek menunjukkan ekspresi emosi positif yang sangat kuat ketika ditaruh di car seat dan diajak bermain oleh Ibunya.

A. Ekspresi Emosi Negatif

Gb 4

Gb 5

1. Masih pada hari kedua observasi, Ibu subjek menaruh kembali subjek di sisi kiri tempat tidur. Subjek ditinggalkan sendirian di kamar dengan kamera pengambil gambar yang telah di setting otomatis. Subjek tampak menunjukkan ekspresi emosi negatif yang kurang kuat dengan bibir bawah menekan bibir atas dan kedua unjung bibir membentuk lengkungan. Namun tidak ada aktifitas otot dahi.

2. Teman Ibu subjek yang berbaju merah motif putih dan tidak pernah dilihat subjek sebelumnya masuk ke kamar dan menggendong subjek. Subjek tampak menunjukkan ekspresi emosi negative yang kuat dengan bentuk bibir yang melengkung ke bawah disertai gelembung-gelembung air liur serta aktivitas otot dahi yang berkerut. Di sini seperti ada percampuran antara emosi sedih dan takut.

Referensi:

Ekman, P., Friesen, W. V., & Hager J. C. (2002). Facial Action Coding System: The Manual. SLC: Research Nexus division of Network Information Research Corporation.

Messinger, D. S. (2002). Positive and negative: Infant facial expressions and emotions. Current Directions of psychological science Journal. Vol 11 No 1, 1-3. Florida: Blackwell Publishing Inc.

Papalia, D. E., Olds. S. W., & Feldman. D. P. (2009). Human development. New York: Mc Graw Hill.

Popularity: 4% [?]

Share
Posted in Indonesia | Leave a comment